Investor Global Sambut Positif Rencana Pengembangan PFII di Indonesia

Jakarta – Rencana pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) mendapatkan respons positif dari kalangan investor dan entitas pengelola kekayaan global. Pemerintah akan memulai operasional PFII di Jakarta sebelum memperluas pengembangannya ke Bali.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan Jakarta dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki infrastruktur dan ekosistem finansial yang lebih siap. Langkah tersebut juga dilakukan untuk menangkap momentum meningkatnya minat investor global terhadap Indonesia.

banner 336×280
“Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu. Kenapa? Karena Bapak Presiden ingin ini semua langsung kerja, ada momentumnya,” ujarnya.

Menurut Rosan, pemerintah perlu bergerak cepat agar peluang masuknya arus modal internasional tidak terlewat. Sementara itu, pengembangan PFII di Bali membutuhkan waktu lebih panjang karena pemerintah perlu menyiapkan gedung dan berbagai infrastruktur pendukung.

“Walaupun nanti yang rencana juga di Bali, karena di Bali kan untuk pembangunan akan takes time ya untuk membangun infrastrukturnya, gedungnya, dan yang lain-lainnya,” katanya.

Pemerintah sebelumnya telah melakukan penjajakan awal dengan sekitar 110 perwakilan entitas pengelola kekayaan dari kawasan Asia di Nusa Dua, Bali. Pertemuan tersebut mendapatkan sambutan positif karena Bali dinilai memiliki keunggulan yang memadukan aktivitas finansial dengan pariwisata berkelas dunia.

“Kalau kita bicara dengan para investor ini mereka melihatnya Bali ini mereka sangat tertarik,” ujar Rosan.

Ketertarikan tersebut menjadi modal awal bagi pemerintah untuk membangun ekosistem family office di Indonesia. Kehadiran pemilik dan pengelola kekayaan global diharapkan tidak hanya membawa masuk dana investasi, tetapi juga mendorong sektor jasa keuangan, teknologi, properti, dan pariwisata.

Setelah menjajaki investor dari Asia, pemerintah akan memperluas komunikasi dengan pengelola dana dari Timur Tengah dan Eropa. Timur Tengah dinilai memiliki potensi besar karena didukung portofolio kapital yang dapat disalurkan ke berbagai sektor investasi strategis di Indonesia.

Pemerintah juga telah memperoleh masukan dari Dubai International Financial Centre mengenai pengembangan ekosistem family office. Pengalaman Dubai menjadi salah satu referensi dalam membangun PFII sebagai pusat keuangan yang kompetitif dan mampu menampung arus modal internasional.

Rosan menegaskan tata kelola yang independen akan menjadi fondasi untuk menjaga kepercayaan investor terhadap PFII.

“PFII itu semuanya memang harus independen. Jadi baik dari segi pengelolaannya sudah pasti independen. Kemudian dari pengadilannya juga, walaupun tetap bekerja sama dengan MA, tahap-tahapnya juga harus independen. Kemudian OJK-nya juga OJK independen,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *