Tokoh Papua Bersatu Tolak Kekerasan di Jila, Kedamaian Warga Jadi Prioritas

MIMIKA – Tokoh adat dan tokoh agama Papua menyuarakan penolakan tegas terhadap aksi kekerasan yang terjadi di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Kabupaten Mimika. Mereka menilai keselamatan masyarakat sipil harus ditempatkan sebagai prioritas utama dan tidak boleh dikorbankan dalam konflik maupun kepentingan kelompok mana pun.

Sikap tersebut disampaikan menyusul laporan aksi kekerasan dan penyanderaan terhadap sejumlah warga sipil di wilayah Jila. Para tokoh menyerukan agar segala bentuk tindakan yang menimbulkan rasa takut, ancaman, dan penderitaan bagi masyarakat segera dihentikan.

Kepala Suku Kampung Yokobak sekaligus Kepala Distrik Nogi, Bimber Yigibalom, menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan suasana aman untuk menjalankan kehidupan sehari-hari dan membangun daerahnya.

“Tidak ada tempat bagi kekerasan terhadap masyarakat sipil. Kita harus menjaga Papua agar tetap damai sehingga masyarakat dapat hidup dan membangun masa depan dengan aman,” kata Bimber.

Menurut dia, masyarakat perlu memperkuat kebersamaan dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta aparat TNI dan Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Ia juga mengimbau warga agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang dapat menjerumuskan pada tindakan melanggar hukum.

Sementara itu, Kepala Suku Kampung Konikme sekaligus Ketua Jemaat Gereja Baptis Konikme, Marthinus Wonda, menyerukan penghentian kekerasan dan pembebasan warga sipil yang dilaporkan menjadi korban penyanderaan.

“Jalan damai harus selalu menjadi pilihan. Nilai kasih dan kemanusiaan mengajarkan kita untuk melindungi kehidupan, bukan menciptakan penderitaan,” ujarnya.

Senada, Kepala Suku Kampung Palunggame sekaligus Ketua Lembaga Masyarakat Adat Distrik Yiginua, Teka Kogoya, mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu menolak teror dan kekerasan. Ia menegaskan bahwa keamanan merupakan modal penting bagi kemajuan masyarakat Papua.

“Kedamaian adalah kebutuhan bersama. Dengan situasi yang aman, pembangunan dapat berjalan, anak-anak dapat belajar dengan tenang, dan masyarakat dapat bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan,” kata Teka.

Seruan para tokoh tersebut mencerminkan harapan kuat masyarakat Papua untuk membangun kehidupan yang damai dan sejahtera. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat keamanan dinilai menjadi kekuatan penting untuk melindungi warga sipil serta menjaga stabilitas keamanan.

Penolakan terhadap kekerasan sekaligus menjadi pesan bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui persatuan, dialog, dan kerja sama demi terciptanya kehidupan yang aman dan penuh harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *