Oleh: Yusuf Rinaldi
Indonesia tengah memasuki babak baru dalam perjalanan ekonomi. Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga perang dagang yang kembali meningkat, pemerintah justru mencoba membangun optimisme melalui langkah strategis, yaitu membentuk dan memperkuat dana kedaulatan nasional atau sovereign wealth fund (SWF) melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai nilai aset Danantara yang telah menembus USD1.000 miliar (sekitar Rp17.500 triliun) menjadi bukti nyata bahwa Indonesia kini bertransformasi dari sekadar pasar besar dunia menjadi kekuatan ekonomi global baru yang mandiri, tangguh, dan memiliki kapasitas investasi strategis jangka panjang.
Di panggung global, pencapaian luar biasa ini sukses mengubah peta persepsi internasional terhadap peta kekuatan ekonomi Indonesia. Jika selama bertahun-tahun kekayaan investasi sovereign wealth fund identik dengan negara-negara kaya minyak di Timur Tengah, kini Indonesia melangkah di arena yang sama dengan strategi yang jauh lebih komprehensif. Melalui konsolidasi aset negara yang solid, sinergi BUMN yang kuat, lompatan besar hilirisasi industri, serta penguatan ekonomi domestik berbasis desa, Indonesia membuktikan bahwa kemakmuran dapat dibangun dari kekuatan bangsa sendiri.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa pembentukan Danantara bukan sekadar proyek ekonomi biasa, melainkan fondasi jangka panjang untuk memperkuat kedaulatan nasional. Pernyataan bahwa manfaat terbesar baru akan terlihat dalam 10 hingga 20 tahun mendatang menunjukkan bahwa pemerintah sedang membangun arsitektur ekonomi yang melampaui siklus politik lima tahunan.
Langkah tersebut menjadi relevan karena Indonesia saat ini memiliki momentum yang relatif kuat. Stabilitas harga pangan lebih terkendali dibandingkan banyak negara berkembang lain, ketahanan pangan mulai menunjukkan perbaikan, dan hilirisasi sumber daya alam perlahan menghasilkan nilai tambah baru bagi perekonomian nasional. Dalam konteks itulah, dana kedaulatan menjadi instrumen penting untuk memastikan surplus kekayaan nasional tidak habis untuk konsumsi jangka pendek, melainkan diinvestasikan kembali demi generasi mendatang.
Model seperti ini sebenarnya telah terbukti berhasil di berbagai negara. Norwegia, misalnya, mampu mengubah kekayaan energi menjadi dana investasi raksasa yang menopang kesejahteraan masyarakat lintas generasi. Singapura juga berhasil menjadikan pengelolaan aset negara sebagai mesin pertumbuhan ekonomi melalui Temasek Holdings dan GIC. Indonesia kini mencoba membangun jalannya sendiri dengan karakter ekonomi yang lebih besar dan kompleks.
Yang menarik, pemerintah tidak hanya berbicara mengenai angka besar, tetapi juga menghubungkannya dengan agenda ekonomi kerakyatan. Peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk menjadi simbol bahwa pembangunan ekonomi nasional tidak hanya berpusat di kota besar atau sektor industri modern. Pemerintah ingin memastikan bahwa kekuatan ekonomi nasional juga bertumpu pada desa, koperasi, petani, dan UMKM.
Melalui penguatan koperasi desa, pemerintah mencoba membangun ekosistem distribusi pangan, logistik, pembiayaan murah, hingga penyerapan hasil panen dalam satu rantai ekonomi nasional yang lebih terintegrasi. Jika berhasil, koperasi tidak lagi sekadar menjadi simbol ekonomi rakyat, tetapi benar-benar menjadi instrumen penggerak ekonomi nasional.
Di sisi lain, kehadiran Danantara juga menjadi momentum reformasi besar-besaran terhadap tata kelola BUMN. Selama puluhan tahun, persoalan klasik BUMN adalah tumpang tindih bisnis, inefisiensi, terlalu banyak anak perusahaan, serta rendahnya produktivitas aset negara. Karena itu, gagasan menjadikan Danantara sebagai superholding BUMN dinilai banyak ekonom sebagai langkah strategis untuk mengakhiri era fragmentasi pengelolaan aset negara.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, menilai Danantara berpotensi menjadi mesin investasi nasional baru yang mampu memperkuat hilirisasi dan industrialisasi nasional. Bahkan, optimalisasi aset BUMN disebut dapat mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 1,6 persen. Angka ini tentu bukan sekadar statistik, melainkan potensi penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, dan perluasan kelas menengah Indonesia.
Pandangan serupa juga muncul dari Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, yang melihat Danantara sebagai instrumen penyederhanaan struktur BUMN yang selama ini terlalu gemuk dan tidak efisien. Konsolidasi tersebut diyakini dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperbesar daya saing BUMN Indonesia di tingkat global.
Di titik inilah pertaruhan besar Indonesia sebenarnya berada. Dana kedaulatan bukan hanya soal besarnya aset yang dikelola, melainkan tentang kemampuan negara mengubah kekayaan nasional menjadi instrumen pembangunan jangka panjang yang produktif dan berkelanjutan. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam, tetapi sebagai negara yang mampu mengelola kekayaannya secara strategis.
Momentum ini juga menunjukkan perubahan paradigma pembangunan nasional. Pemerintah tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi tahunan, tetapi mulai membangun fondasi kekuatan ekonomi masa depan. Dengan kombinasi antara penguatan dana kedaulatan, reformasi BUMN, hilirisasi industri, serta penguatan ekonomi desa, Indonesia sedang menempatkan diri sebagai kekuatan ekonomi baru yang diperhitungkan dunia.
)* Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi
