Jakarta – Pemerintah terus berupaya mewujudkan swasembada energi melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar percepatan transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.
Presiden Prabowo Subianto secara langsung menginstruksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk segera merealisasikan pembangunan PLTS berskala besar tersebut. Instruksi ini menandai keseriusan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan beralih ke energi baru terbarukan (EBT).
“Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah perintah saya. Itu sudah keputusan saya dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini,” ujar Prabowo.
Prabowo juga optimistis bahwa target swasembada energi dapat dicapai dalam waktu relatif singkat dengan memaksimalkan potensi sumber daya energi domestik.
“Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, yang kita yakin akan tercapai dalam 4 tahun. Target ini tentunya memerlukan upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang kita miliki,” kata Prabowo.
Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pembangunan PLTS 100 GW merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, khususnya diesel. Menurutnya, saat ini bauran energi nasional masih didominasi oleh bahan bakar fosil seperti batu bara, gas, dan diesel.
“Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden, agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt,” ujar Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa pembangunan PLTS tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari orkestrasi besar transisi energi nasional. Pemerintah juga akan mengoptimalkan potensi energi lain seperti panas bumi (geothermal) dan tenaga air guna memastikan pasokan energi yang berkelanjutan.
“Optimalisasi pemanfaatan EBT kita lakukan bukan dengan PLTS saja, tapi juga dengan mempergunakan seluruh sumber daerah kita, seperti geothermal, maupun air. Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil,” jelas Bahlil.
Program PLTS 100 GW ini juga diproyeksikan menjadi tulang punggung dalam menghadapi ketidakpastian energi global akibat faktor geopolitik.
