*) Oleh : Hifi Wardani )*
Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Aktivitas belajar, bekerja, dan berinteraksi sosial berjalan dalam ritme yang menyesuaikan dengan ibadah puasa. Dalam konteks ini, kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih adaptif dan sensitif terhadap kebutuhan umat Muslim. Konsep MBG Ramah Ramadan menjadi penting agar program pemenuhan gizi tetap berjalan optimal tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah. Program ini bukan sekadar distribusi makanan, tetapi juga wujud kepedulian negara terhadap keseimbangan antara kesehatan dan spiritualitas.
MBG pada dasarnya dirancang untuk memastikan anak-anak dan kelompok rentan memperoleh asupan gizi seimbang. Namun, selama Ramadan, pola konsumsi masyarakat berubah signifikan. Waktu makan terbatas pada sahur dan berbuka, sementara aktivitas harian tetap berjalan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, perubahan pola ini berpotensi menurunkan asupan energi dan konsentrasi, khususnya bagi pelajar. Karena itu, pendekatan MBG Ramah Ramadan dapat diarahkan pada penyediaan paket gizi yang bisa dikonsumsi saat berbuka atau dibawa pulang untuk sahur, sehingga manfaatnya tetap dirasakan tanpa mengganggu ibadah puasa.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menjelaskan bahwa bagi siswa muslim yang menjalankan ibadah puasa, program MBG akan tetap berjalan dengan menyediakan makanan kering yang bergizi dan mudah dibawa pulang. Menu yang disiapkan antara lain telur rebus, roti, dan kurma, yang merupakan sumber energi dan nutrisi penting untuk menjaga stamina selama berpuasa.
Penyesuaian menu ini bertujuan untuk menghormati kekhusyukan bulan Ramadan dan memastikan siswa muslim tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup tanpa mengganggu ibadah puasa mereka. Makanan kering dipilih karena praktis, tahan lama, dan mudah dikonsumsi saat sahur atau berbuka puasa. Selain itu, kandungan gizi dalam makanan kering tersebut juga telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa selama berpuasa.
Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Fadly Abdina menjelaskan program MBG selama Ramadan harus disosialisasikan dengan narasi yang menekankan penghormatan terhadap ibadah. Sekolah, orang tua, dan siswa perlu memahami bahwa program ini fleksibel dan tidak memaksa peserta didik untuk makan di siang hari. Transparansi ini akan menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat. Bahkan, program ini dapat menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan selama berpuasa, termasuk anjuran minum cukup air saat sahur dan berbuka serta memilih makanan bergizi seimbang.
Lebih jauh, MBG Ramah Ramadan juga dapat memperkuat nilai gotong royong. Pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam penyediaan makanan berbuka dapat meningkatkan dampak ekonomi program. Dapur umum atau penyedia katering lokal dapat diberdayakan dengan standar kualitas yang diawasi secara ketat. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan, tetapi juga oleh masyarakat sekitar yang terlibat dalam rantai pasok. Ramadan menjadi momentum berbagi yang berdampak luas secara sosial dan ekonomi.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI), Alven Stony menjelaskan aspek pengawasan mutu dan keamanan pangan tetap harus menjadi prioritas. Selama Ramadan, suhu dan waktu penyimpanan makanan perlu diperhatikan agar kualitas tetap terjaga hingga waktu berbuka. Standar kebersihan dapur, pengemasan, dan distribusi harus diperketat. Pengawasan berkala terus dilakukan untuk memastikan tidak ada risiko keracunan atau penurunan kualitas makanan. Upaya ini penting agar tujuan menjaga gizi tidak justru menimbulkan persoalan baru.
Tak berhenti di dapur produksi, efek penyerapan kerja juga meluas ke rantai pasok. Sekitar 22.000 pemasok bahan pangan terlibat dalam mendukung operasional SPPG. Masing-masing pemasok setidaknya mempekerjakan tiga orang, sehingga membuka tambahan puluhan ribu peluang kerja di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan distribusi. Dengan skema tersebut, MBG dinilai menciptakan ekosistem kerja dari hulu hingga hilir, mulai dari petani dan pedagang bahan pokok, tenaga dapur, hingga distribusi makanan ke penerima manfaat.
Dari perspektif pendidikan, MBG Ramah Ramadan juga mendukung konsentrasi belajar siswa. Puasa bukan alasan untuk menurunkan semangat akademik, tetapi memang membutuhkan manajemen energi yang baik. Dengan asupan gizi yang tepat saat berbuka dan sahur, siswa tetap memiliki daya tahan dan fokus dalam mengikuti pelajaran. Bahkan, momentum Ramadan dapat dimanfaatkan sekolah untuk mengintegrasikan edukasi gizi dalam kegiatan pesantren kilat atau kajian keagamaan, sehingga pemahaman tentang kesehatan dan ibadah berjalan beriringan.
Pada akhirnya, MBG Ramah Ramadan adalah wujud kebijakan yang responsif terhadap dinamika sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia. Program ini menegaskan bahwa pemenuhan gizi dan penghormatan terhadap ibadah bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dengan desain yang adaptif, komunikasi yang inklusif, serta pengawasan yang ketat, MBG dapat tetap menjadi instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia, bahkan di bulan suci. Ramadan pun menjadi ruang pembuktian bahwa kebijakan publik yang sensitif dan humanis akan lebih mudah diterima serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi masa depan.
*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pemerintah
