Pemerintah Siapkan Hilirisasi Puluhan Komoditas, Bidik Investasi hingga 2045

Jakarta – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, mengatakan pemerintah menyiapkan peta jalan hilirisasi yang mencakup 28 komoditas strategis hingga 2040-2045.

Program tersebut diproyeksikan memiliki potensi investasi mencapai sekitar USD618 miliar dan diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

“Ada 28 komoditas dalam rencana payung besar program kita sampai 2040-2045. Konsolidasi terhadap ini ada kurang lebih USD618 miliar kalau sektor hilirisasi investasinya kita dorong. Untuk lebih focusing lagi, dalam RPJM kita squeeze menjadi 15 komoditas,” ujar Todotua.

Peta jalan tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari minyak dan gas bumi, mineral, kelautan, agrikultur hingga perkebunan. Pemerintah menyusun strategi berdasarkan potensi cadangan sumber daya alam serta posisi komoditas Indonesia di pasar global.

Dari 28 komoditas dalam rencana besar tersebut, sebanyak 15 komoditas akan menjadi fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Todotua menjelaskan pemerintah menyiapkan tiga strategi utama dalam mendorong investasi hilirisasi, yakni perencanaan, eksekusi, serta strategi perizinan dan pemberian insentif. Pemetaan juga mempertimbangkan sebaran sumber daya alam dan industri pendukung di berbagai wilayah Indonesia.

“Kita mengerti sebarannya dimana potensinya dimana sehingga nanti inilah yang akan menjadi design planning dalam kita mendorong apa namanya konsep hilirisasi. Perencanaannya ini memang kita butuhkan supaya kita mengerti strateginya,” sambung Todotua.

Hilirisasi juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Pemerintah ingin membangun rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga sumber daya alam yang tersedia di dalam negeri dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Sumber daya alam yang kita punya selama ini banyak diolah di luar dan nilai tambahnya di luar. Kita harapkan dengan mendorong hilirisasi, keseluruhan ekosistem supply chain-nya bisa terjadi di negara kita, sehingga ekspor naik dan kita punya kekuatan,” tegas Todotua.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Ahmad Erani Yustika, menilai kebijakan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

“Yang pertama kita harus menaikkan nilai tambah sumber daya alam kita sehingga harus diolah di sini, itu yang paling utama. Yang kedua kita justru harus mendorong supaya ketergantungan impornya itu berkurang,” kata Erani.

[w.R]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *